Harja Saputra Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: me@harjasaputra.com

Biografi dan Ide-ide Pembaruan Abul Kalam Azad

5 menit baca 1.252

Abul Kalam Azad (ft: indiatoday.in)

Biografi Abul Kalam Azad

Abul Kalam lahir pada tahun 1888 di kota Mekkah. Abul Kalam Azad merupakan putra Maulana Muhammad Khairuddin. Seorang ulama dan pemimpin India yang pindah ke Mekkah setelah gagalnya pemberontakan 1857. Ia seorang yang berilmu dan penulis berbagai buku dalam bahasa Arab serta Parsi yang dihormati oleh beribu-ribu pengikutnya di India.

Pendidikan pertama diperolehnya di Mekah dan pendidikan selanjutnya di Al-Azhar di Cairo. Setelah orang tuanya meninggal ia pergi ke India dan menetap di sana untuk selama-lamanya.[1]

Dari perguruan-perguruan di Mekah dan Kairo ia hanya memperoleh pengetahuan bahasa Arab dan agama. Kepada pengetahuan ini ia tambahkan pengetahuan bahasa Inggris dan ilmu-ilmu pengetahuan Barat, yang dipelajarinya atas usahanya sendiri setelah berada di India. Ia tidak ingin menjadi ulama seperti orang tuanya, tetapi bercita-cita menjadi pengarang dan politikus.

Dalam usia yang masih muda, tepatnya pada tahun 1912, Abul Kalam Azad menerbitkan sebuah majalah di Kalkutta yang bernama Al-Hilal. Pada mulanya sirkulasi majalah ini berjumlah sebelas ribu, tetapi kemudian meningkat menjadi dua puluh lima ribu.

Di majalah inilah ia keluarkan ide-idenya mengenai agama yang pada waktu itu mengejutkan bagi golongan ulama. Al-Hilal juga mengandung ide-ide politik dan karena serangan dan kritiknya yang tajam terhadap Pemerintahan Inggris. Majalah itu akhirnya dilarang terbit.[2]

Dari sejak muda, ia telah memasuki lapangan politik dan menggabungkan diri dengan Partai Kongres. Aktivitasnya dalam lapangan politik membuat ia beberapa kali ditangkap dan dipenjarakan. Di tahun 1923, dalam usia 35 tahun, ia dipilih menjadi Presiden Partai Kongres.

Tujuh belas tahun kemudian, pada tahun 1940, ia dipilih untuk kedua kalinya menjadi Presiden. Selama hidupnya ia selalu memegang jabatan penting di Partai Kongres, dan setelah India merdeka ia pernah menjadi menteri Pendidikan India. Abul Kalam Azad meninggal dunia pada tahun 1958.[3]

Baca Juga: Biografi dan Ide-ide Pembaharuan Rasyid Ridha

Ide-ide Pembaruan Abul Kalam Azad

Seperti dikatakan oleh Harun Nasution (1992), bahwa peranan Abul Kalam Azad dalam lapangan pemikiran pembaruan Islam kurang menonjol jika dibandingkan dengan kegiatannya dalam bidang politik.

Namun, terdapat beberapa poin penting yang berkenaan dengan ide-ide pembaruan Abul Kalam Azad yang turut memberikan sumbangan bagi masyarakat Muslim, khususnya Muslim India saat itu.

Rekonstruksi Ajaran Islam

Pembaruan Abul Kalam Azad lebih bersifat moderat, sebagaimana disebutkan dalam majalah Al-Hilal, bahwa tujuan pembaruannya adalah untuk melepaskan umat Islam dari pemikiran-pemikiran abad pertengahan dan taklid.

Ia menganjurkan untuk kembali kepada al-Qur’an, dan untuk keperluan ini ia terjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Urdu dengan diberi penafsiran. Menurutnya, al-Qur’an harus dipahami dengan mesti melepaskan diri dari pengaruh pemikiran ahli hukum, sufi, teolog, dan sebagainya.[4]

Kemunduran umat Islam selain disebabkan oleh dogmatisme dan sikap taklid tersebut, juga disebabkan oleh keadaan umat Islam yang tidak lagi seluruhnya menjalankan ajaran-ajaran Islam. Kebangkitan umat Islam dapat diwujudkan selain dengan melepaskan diri dari faham-faham usang, juga dengan melaksanakan ajaran Islam dalam segala bidang kehidupan umat.

Abul Kalam Azad, yang semasa mudanya sangat anti-intelektual, belakangan—yaitu setelah beliau dilepaskan dari penjara pada tahun 1920–mengalami perubahan pemikiran yang drastis. Maulana Abul A’la al-Maududi menulis mengenai perubahan pemikiran dan gerakan Abul Kalam Azad, sebagai berikut:

“Hingga tahun 1920-1921 Maulana Abul Kalam Azad secara antusias sekali sebagai gerakan Kebangkitan Islam serta gerakan khilafat; tetapi setelah itu ia benar-benar berbalik haluan, baik dalam pemikiran maupun tindakannya.

Sedemikian banyak perubahan itu hingga banyak orang mengusap matanya untuk meyakinkan apakah ia sama seperi Azad yang dulu atau melalui berbagai proses hingga menjelma menjadi pribadi baru yang muncul pada dirinya.

Abul Kalam Azad sekarang adalah seratus persen orang nasionalis India dan merupakan seorang penganjur kesatuan bangsa India yang terdiri dari kaum muslimin dan non-muslimin. Ia memperpadukan teori kesatuan agama seperti yang dikatakan oleh beberapa filsuf Hindu dan teori Barat mengenai evolusi biologis.”[5]

Ia bahkan tidak lagi percaya terhadap kekuatan doa yang menjadi tradisi ulama-ulama Sunni. Dalam karya beliau, Ghubar-e Khatir, di antaranya Abul Kalam Azad menggugat faham ulama-ulama Al-Azhar yang pada tahun 1791 ingin menghentikan serangan Napoleon di Mesir dengan membaca kitab Shahih Bukhari.

Ia juga mengkritik Amir Bukhara pada saat beberapa tahun kemudian mengharap untuk dapat mengalahkan Rusia dengan mengadakan “Khatm-e-Khwajagan’ (tradisi spiritual sufistik) di masjid-masjid dan madrasah-madrasah.

Abul Kalam Azad menjelaskan bahwa itu bukan sikap umat Muslim pada puncak kebesarannya, dan ia mempertentangkan fanatisme buta dari umat Kristen yang melakukan perang salib dengan realisme dan kekuatan umat Muslim di saat menghadapi mereka:

“Eropa adalah pelopor dari fanatisme agama. Adapun umat Islam hidup dengan sains dan akal. Eropa mengharap untuk perang dengan senjata doa. Umat Islam berperang dengan senjata dan api.”[6]

Baca Juga: Muhammad Iqbal dan Pembaruan Pemikiran Islam

Nasionalisme India

Ide nasionalisme India Abul Kalam Azad ini bertujuan untuk mempersatukan India, yang terdiri dari dua kubu besar yang saling berlawanan yaitu kubu Hindu dan Islam. Nasionalismenya tersebut didasarkan pada pendapat bahwa semua umat manusia bersaudara, dan darah seorang non-muslim sama tinggi harganya dengan darah seorang Islam.

Berikut ini adalah pendapat Abul Kalam Azad mengenai penafsiran beliau terhadap al-Qur’an mengenai kesatuan antara kaum Muslimin dan Hindu:

“Mengapa kaum Muslim harus bergandengan tangan dengan kaum Hindu dalam pergolakan politik negara? Al-Qur’an telah mengijinkan kaum Muslimin untuk kawin dengan wanita Yahudi dan Kristen, sang suami akan mencurahkan segala kasih sayangnya kepada sang isteri dan tidak ada ikatan lain yang lebih disayanginya daripada si isteri.

Jikalau Al-Qur’an melarang kaum Muslimin mengadakan kontak dengan non-muslim, bagaimana bisa diperbolehkan kaum Muslimin menjadikan mereka itu (wanita non-muslim) sebagai ratu rumah-tangga serta menyerahkan masalah duniawi dalam urusannya.”[7]

Rasa takut umat Islam terhadap mayoritas Hindu, menurut Abul Kalam Azad, tidak mempunyai dasar. Jika umat Islam ingin tetap hidup dan tinggal di India, mereka juga harus berdampingan dengan orang Hindu sebagai tetangga dan saudara. Dan jika umat Islam masih curiga dan takut pada India merdeka, umat Islam haruslah berani untuk tahan dijajah terus-menerus oleh bangsa luar.

Umat Islam, menurutnya, harus bekerjasama dengan saudara-saudaranya dari golongan Hindu, Sikh, Parsi, dan Kristen untuk membebaskan tanah air dari perbudakan. Umat Islam harus memperjuangkan untuk memperoleh hak dan kemerdekaan India.

Abul Kalam Azad menyatakan:

“Untuk tujuan kemerdekaan India serta agitasi sekarang ini, saya sepenuhnya setuju dengan semua alasan Mahatma Gandhi dan saya sepenuhnya yakin atas kejujurannya. Inilah kebulatan keyakinan saya, bahwa India tidak akan memperoleh kesuksesannya dengan kekerasan tangan, dan sudah barang tentu pandangan seperti ini tidak patut untuk diterimanya.

India bisa merdeka bukan melalui agitasi yang keras, dan kemenangan India sedemikian ini akan menjadikan contoh yang selalu dikenang sebagai kemenangan kekuatan moral”.[8]

Karya Abul Kalam Azad yang paling terkenal dalam mencari bukti-bukti keagamaan guna mendukung aktivitasnya itu ialah komentarnya yang tidak lengkap mengenai Kitab suci al-Qur’an dalam bahasa Urdu.

Kesimpulan pokok dalam karyanya itu adalah bahwa semua agama itu sama sahnya dan hanya pengikut-pengikutnya yang telah menyimpang dan sesat. Ia menegaskan bahwa semua agama di dunia ini pada dasarnya adalah satu. Perbedaan mereka bukan pada akarnya tetapi pada dahan dan cabang-cabangnya, bukan pada semangatnya tetapi hanyalah bentuk luarnya saja.

Seremoni serta ritus akan berubah terus bersamaan dengan masa dan tempat, tapi Tuhan dengan kebijaksanaannya dengan sengaja telah menciptakan perbedaan ini.

Agama semuanya adalah satu, hanya bentuk luar, ritus, serta seremoninya yang berbeda dan karena ini pula orang merasa bahwa agama yang dianutnya itu lebih tinggi daripada yang lain. Dan karena itu pemecahannya tidak lain hanyalah lewat jalan toleransi.[9]

Abul Kalam telah melihat bahwa banyak di antara umat Islam yang tidak sepaham dengannya tentang ide nasionalisme India dan politik bersatu dengan mayoritas Hindu dalam satu negara. Untuk menghadapi  umat Islam dan organisasi Islam yang menentang ide dan politik tersebut, Abul Kalam melihat perlunya kekuatan Islam yang ada di Partai Kongres disatukan.

Baca Juga: Muhammad Abduh dan Ide-ide Pembaharuannya

Untuk itu dibentuklah pada tahun 1929 Kelompok Nasionalis Islam dalam Partai Kongres, yang diketuai oleh Abul Kalam sendiri. Tujuan kelompok ini adalah membangkitkan jiwa patriotisme di kalangan umat Islam India dan mencari penyelesaian tentang perbedaan faham dan tujuan antara umat Islam dan umat Hindu.

Namun tujuan dari kelompok ini tidak tercapai, justru kenyataan yang ada kemudian adalah terpecahnya India menjadi dua negara, negara umat Islam dan negara umat Hindu.*


Catatan Kaki

[1] Maryam Jameelah, Islam & Modernisme, (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), hlm. 96.    

[2] H.A. Mukti Ali, Alam Pikiran Dunia Islam Modern di India dan Pakistan, Op.Cit., hlm. 151-153. Lihat juga Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Op.Cit., hlm. 202-203.

[3] Harun Nasution, Ibid., hlm. 203.

[4] Harun Nasution, Ibid., hlm. 203.

[5] Dikutip dari surat pribadi Abul A’la Maududi kepada Maryam Jameelah, tertanggal 30 Maret 1962.

[6] H.A. Mukti Ali, “Abul Kalam Azad”, dalam Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Op.Cit., hlm. 159.

[7] A.B Rajput, Maulana Abul Kalam Azad (Lahore: Lion Press, 1957), hlm. 40. Lihat juga Maryam Jameelah, Islam & Modernisme, Op. Cit., hlm. 104.

[8] Mahadev Desai, Maulana Abul Kalam Azad (London: Georde Allen & Unwin, 1941) hlm. 82.        

[9] Mahadev Desai, Ibid. hlm. 104-105. Lihat Juga Maryam Jameelah, Op.Cit., hlm. 106.

Harja Saputra Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: me@harjasaputra.com

Subscribe my newsletter!

#kami tidak akan kirim spam

Komentari Artikel
Setiap komentar akan dimoderasi dan tayang setelah diapprove. Baik komentar positif maupun negatif tidak akan disensor. Moderasi hanya untuk memilah spam. Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi.
0 Komentar

No Comment.