Connect with us

Filsafat

Merdeka Itu Bahagia (2)

Published

on

Merdeka itu bahagia bermakna ketika bergantung pada orang lain adalah tidak bahagia. Banyak sekali orang yang tidak merdeka, tergantung pada orang lain, tergantung pada faktor luar sehingga dirinya terkungkung dan menderita. Tidak bahagia. Mungkin bagi dirinya adalah bahagia pada saat itu tetapi kemudian akan menyadari bahwa hal itu bukan dari kebahagiaan. 

Sangat banyak orang yang tidak merdeka, terikat pada merek-merek dagang tertentu. Moderen bagi mereka adalah menggunakan merek-merek mahal. Terikat pada merek. Bahagiakah mereka? Tentu. Tetapi bahagianya disebabkan faktor luar. Ketika faktor luar itu tidak ada maka dirinya menjadi tidak bahagia. 

Kebahagiaan tidak datang dari luar diri kita. Kebahagiaan itu sifatnya datang dari dalam diri. Ketika kita bahagia karena faktor luar dengan sendirinya menjadi tidak merdeka. Terikat oleh faktor lain. 

Kemarin baru ada kabar artis dunia, Robin William, yang bunuh diri menggantung diri dengan ikat pinggang. Karena apa? Depresi alias tidak bahagia. Terikat oleh dunia luar itu sangat menyiksa. Padahal apa yang ia tidak miliki? Punya semua. Harta banyak, keluarga ada, ketenaran juga punya. Tapi memilih untuk mengakhiri hidup karena merasa tidak bahagia.

Sangat banyak tokoh-tokoh terkenal yang terdengar memilih untuk bunuh diri karena depresi. Karena memang, puncak kehidupan itu adalah kebahagiaan. Ketika kita bahagia semuanya menjadi mudah, semuanya menjadi ada cara untuk menyelesaikan masalah. Namun ketika tidak bahagia maka semuanya seakan tertutup jalan, semuanya menjadi gelap.

Tidak mudah untuk meraih kebahagiaan. Banyak buku motivasi, training, dan talkshow membahas masalah bahagia (how to pursuit happiness). Kebahagiaan itu abstrak dan tujuan semua orang. Banyak cara dan pendapat untuk meraih kebahagiaan, tetapi itu semua tidak akan berhasil ketika kebahagiaan dipersepsikan sebagai sesuatu yang berada di dunia luar.

Kebahagiaan itu inheren dalam diri kita, tidak jauh di dunia luar, tidak berada pada orang lain, tidak berada pada benda-benda yang sifatnya material. Pengetahuan manusia yang semakin moderen lama-kelamaan menggeser persepsi tentang bahagia. Bahwa kebahagiaan adalah ketika menggunakan mobil merek A, bahwa bahagia itu ketika memiliki barang B sampai Z. Begitu seterusnya. Padahal itu semua semu.

Bahagia itu simpel. Yaitu tidak terikat pada apapun. Ia adanya dalam diri. Itulah sebabnya para Biksu, misalnya, melakukan tapa yaitu untuk menggali jatidiri. Itulah juga sebabnya para Nabi harus meyingkirkan diri dari kehidupan dunia ketika hendak menerima wahyu. Nabi Musa harus menyingkir ke Gunung Sinai, Nabi Muhammad harus berkhalwat di Gua Hira, dan para ksatria harus bertapa di tempat-tempat sunyi. 

Mereka “menyiksa diri” untuk meraih sesuatu yang abstrak, kebahagiaan hakiki. “Penyiksaan diri” ini sekilas sama dengan orang yang depresi. Tetapi motif dan muatannya berbeda. Orang depresi menyiksa diri hingga bunuh diri tanpa motif, bingung harus apa, tidak punya pijakan. Namun, bagi yang “menyiksa diri” menyendiri dalam sunyi, berpuasa selama berhari-hari mempunyai pijakan, yaitu keyakinan diri. Mentransendenkan diri pada yang Maha. Bukan pada dunia luar yang semu.

Mungkin bagi seorang petani yang berada di pegunungan, mereka tidak punya apa-apa. Tetapi lihatlah, mereka bahagia. Selalu menjalani keseharian tanpa terikat oleh pengaruh luar. Yang penting bagi mereka bisa makan seadanya, tapi mereka bahagia. Karena itu semua berawal dari keyakinan di dalam diri, bukan dari faktor luar. 

Memang seperti terdengar klasik. Namun, yang klasik-klasik ini justru yang masih asli. Kini bahkan orang-orang modern berlomba-lomba untuk kembali pada yang klasik. Kembali berlomba untuk hidup di tempat-tempat klasik: pegunungan, lembah, pantai, dan semua yang bernuansa keaslian alami. Namun, tetap saja, jika itu semua tujuannya karena gaya hidup tidak akan berbanding lurus dengan kebahagiaan diri. Orang yang punya vila di Puncak karena gaya hidup akan berbeda dengan orang yang mengasingkan diri di tempat sunyi untuk menggali jatidiri. Tindakannya sama tetapi motivasinya berbeda, dan outputnya pun akan berbeda.

Kebahagiaan berarti kembali pada jatidiri, tidak terikat pada faktor luar, kembali pada kesucian. Itulah esensi kemerdekaan. Menghancurkan dominasi faktor luar untuk bahagia dan jadilah orang yang merdeka!**[harjasaputra] 

Tulisan lain: Merdeka itu Bahagia (1)

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Advertisement
Klik untuk Berkomentar