Connect with us

Sosbud

Raja Arab Saudi akan Kasih Uang Banyak untuk Indonesia, Benarkah?

Published

on

foto: raja salman (reuters)

Setelah 47 tahun sejak Raja Arab Saudi, King Faisal, pada tahun 1970 berkunjung ke Indonesia, kini giliran King Salman diagendakan berkunjung ke Indonesia. Tidak tanggung-tanggung rombongan kunjungan Raja tersebut mencapai 1500 orang dengan 25 pangeran. Program bedol desa kalah, lebih tepatnya mungkin bedol istana Arab, karena hampir semua pejabat Kerajaan Saudi dikerahkan ke Indonesia.

Ada beberapa hal yang patut dicatat dari kunjungan raja Arab ini.

Pertama, kunjungan ini tak dapat dipungkiri merupakan moment berarti bagi Indonesia karena kerjasama Indonesia dan Arab Saudi sangat banyak. Jumlah jemaah haji Indonesia yang mengunjungi Arab Saudi setiap tahunnya adalah terbanyak dibandingkan dengan negara-negara berpenduduk Muslim dunia. Ada perputaran uang rata-rata 10 triliun setiap tahun di musim haji dari Indonesia ke Arab Saudi. Kerjasama di bidang pendidikan pun tinggi, TKI di Arab Saudi pun banyak, dan kerjasama lainnya yang sangat banyak. Ini menjadi latar-belakang kunjungan raja Arab Saudi ke Indonesia.

Kuota haji Indonesia tahun ini kembali normal ke angka 211 ribu ditambah lagi akan ada tambahan kuota sebanyak 10 ribu sebagai “bonus” dari rencana kunjungan raja sehingga kuota total menjadi 221 ribu. Dengan adanya penambahan kuota ini jelas akan meningkatkan devisa Arab Saudi. Ditambah lagi, jemaah haji Indonesia terkenal tidak banyak neko-neko dan royal. Jemaah haji Indonesia paling banyak belanja dibandingkan dengan jemaah haji negara lain. Ini akan menambah perputaran ekonomi masyarakat Arab. Ekonomi akan meningkat.

Kedua, kunjungan raja Arab ini pun tak lepas dari situasi politik di Timur Tengah. Seperti diketahui, Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi selain bekerjasama dengan Arab Saudi juga meningkatkan kerjasama dengan Iran, terutama di sektor energi. Peta politik di Timur Tengah, antara Iran dan Arab Saudi boleh dikatakan ‘musuh bebuyutan’. Selain karena perbedaan ideologi, yang satu Syiah dan satunya lagi Wahabi, juga karena perebutan pengaruh politis di Timur Tengah.

Jika kerjasama Iran dan Indonesia makin meningkat maka dikhawatirkan kepentingan Arab Saudi akan tergerus. Apalagi Arab Saudi sedang membutuhkan dana besar untuk memulihkan perekonomian negaranya. Sejak harga minyak dunia terjun bebas ditambah dengan tingginya pengeluaran akibat berbagai keterlibatan Arab dalam beberapa peperangan di Timur Tengah, Arab Saudi terus melakukan ekspansi untuk mendapatkan tambahan anggaran agar ekonomi terus berputar.

Ketiga, ramai diperbincangkan oleh banyak pihak mengenai rencana investasi Arab Saudi di Indonesia yang mencapai puluhan triliun, untuk tahap pertama 1 miliar dollar dari total rencana 25 miliar dollar. Angka yang fantastis, setara dengan 337 triliun.

Di satu sisi, ini merupakan kabar bagus karena Indonesia sedang membutuhkan banyak uang untuk menutupi defisit anggaran. Investasi saat ini masih memberikan sumbangan sedikit terhadap perekonomian. Ekonomi kita saat ini dipengaruhi besar oleh sumbangan aspek konsumsi masyarakat. Namun, di sisi lain, penting untuk dicatat bahwa orang Arab kalau berjanji agak susah dipegang.

Seperti diungkapkan oleh Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi di Komisi VIII DPR RI, di saat menyoroti masalah bantuan terhadap korban crane yang tak kunjung diberikan hingga saat ini, bahwa orang Arab itu kalau dalam urusan janji dikenal memiliki sifat 3B: Bukroh (besok), Ba’dain (nanti), lalu Bablas (ya bablas, lewat begitu saja tidak tepati janjinya). Tentu, beliau sebagai duta besar berbicara demikian karena telah mempelajari secara seksama budaya di sana sebagai hasil dari pengalaman dan interaksinya.

Ini bukan bermaksud berburuk sangka, tetapi sebagai catatan pinggir, referensi dalam berurusan dengan orang Arab. Tujuannya agar janji Arab Saudi itu bisa diwujudkan. Bukan sekadar janji tanpa bukti.

Keempat, masalah rencana kunjungan rombongan raja Arab ke Bali. Ada yang mempersoalkan: kenapa ke Bali bukan ke Aceh. Ini sih mudah dimengerti, karena di Arab sangat jarang yang namanya pantai. Apalagi pantai yang dipenuhi dengan bule berbikini, hampir mustahil rasanya ada di Arab. Hampir lho ya, saya juga belum pernah berkunjung soalnya ke pantai di Arab.

Sah-sah saja rombongan raja mau berlibur. Tapi kebayang saja di pikiran saya, bagaimana reaksi mereka nanti melihat keindahan pantai Bali dengan banyak bule berbikini. “Masya Allah, ya Allah…haram..haram…sambil ditutup matanya sama jari yang terbuka lebar..:v :v *[harjasaputra.com]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]