Harja Saputra Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Memahami Komposisi Biaya Haji Reguler

2 menit baca

Ilustrasi: harjasaputra.com

Pertanyaan mendasar yang harus dijelaskan: Berapa sesungguhnya biaya haji reguler dan komposisinya seperti apa?

Pada pengesahan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) setiap tahunnya, selalu dicantumkan mengenai komposisi biaya haji. Sebelum tahun 2019, ada namanya Direct Cost (Biaya Langsung) dan Indirect Cost (Biaya Tidak Langsung). Biaya langsung adalah biaya yang dibayarkan oleh jemaah dan biaya tidak langsung adalah biaya yang dibayarkan dari sumber hasil investasi dana haji.

Setelah tahun 2019, sejak UU No 8 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, Direct Cost disebut Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) dan Indirect Cost disebut Biaya yang Bersumber dari Dana Nilai Manfaat Dana Efisiensi, dan Sumber Lain yang Sah.

Biaya yang dibayar oleh calon jemaah haji (kita pakai data tahun 2020) adalah sebesar rata-rata 35.2 juta atau 51% dari total biaya haji. Sisanya sebesar 49% dibiayai dari dana yang bersumber dari Nilai manfaat hasil investasi dan dana efisiensi. Secara keseluruhan biaya haji per jemaah rata-rata sebesar 69.1 juta. Komposisi ini tercantum resmi di Kesimpulan Rapat Kerja dengan Menteri Agama RI.

Rincian biaya perjalanan ibadah haji yang dibayar langsung oleh jemaah adalah:

– Biaya penerbangan (PP) sebesar Rp28.6 juta.

– Living Cost (biaya hidup atau uang saku jemaah selama di Saudi) sebesar SAR 1500 atau ekuivalen sebesar Rp5.5 juta.

– Biaya visa sebesar SAR 300 atau ekuivalen sebesar Rp1.1 juta.

– Sedikit untuk pemondokan di Mekkah sebesar Rp35 ribu (ribu lho ya bukan juta).

Sudah. Biaya dari jemaah untuk itu saja.

Dari 35.2 juta itu, sesungguhnya jemaah bayar hanya Rp29.7 juta, karena Living Cost atau biaya hidup sebesar 5.5 juta yang dibayarkan akan dikembalikan ke semua jemaah pada saat keberangkatan ke Saudi, yaitu saat di Asrama Haji.

Lalu biaya yang lain-lain seperti hotel, konsumsi, transportasi darat dari Bandara ke Mekkah dan dari Mekkah ke Madinah atau sebaliknya, biaya transportasi shalawat (dari pemondokan ke Masjid al-Haram setiap hari), dan banyak lagi biaya lainnya berapa?

Ini rinciannya:

– Hotel atau pemondokan di Mekkah (minimal setaraf bintang 3 dan banyak yang setaraf bintang 4) sebesar SAR 4.250 atau Rp15.6 juta untuk waktu 32 hari. Jadi per harinya Rp487 ribu.

Murah toh? Itu karena per kamar dihuni oleh 4 orang. Jadi biaya per kamar per harinya sebenarnya Rp1.9 juta. Biar tidak terlalu mahal dan saling mengenal di antara calon jemaah diterapkan kebijakan itu.

– Hotel di Madinah (standarnya sama dengan di Mekkah) bedanya sistem blocking time, kalau di Madinah sistemnya full musim. Biayanya SAR 1.250 atau Rp4.6 juta untuk waktu 8 hari.

Kenapa 8 hari? Karena ada fasilitas arba’in atau menunaikan sholat di Masjid Nabawi selama 40 kali.

Jadi per harinya untuk hotel di Madinah per jemaah bayar Rp573 ribu. Kalau di hitung per kamar, biayanya Rp2.3 juta. Sama sistemnya dengan di Mekkah, biar tidak terlalu mahal maka per kamar 4 orang.

– Makan di Mekkah dan di Madinah sekali makan SAR 13.2 atau Rp48.5 ribu. Itu sekali makan. Menunya menu Nusantara dicampurkan dengan menu daerah masing-masing. Kalau orang Padang, sewaktu-waktu ada rendang, semacam itulah.

Itu baru sekali makan. Kalikan saja dengan: di Mekkah setiap jemaah dapat 50 kali makan. Di Madinah setiap jemaah dapat 18 kali makan. Dan pada saat kedatangan dari pesawat setiap jemaah dapat 1x makan.

– Makan di Arafah, Muzdalifah dan Mina setiap jemaah sekali makan biayanya SAR 16.5 atau Rp60.5 ribu. Di Armina setiap jemaah dapat 13x makan bagi jemaah yang menunaikan Nafar Awal dan dapat 16x makan bagi jemaah yang menunaikan Nafar Tsani.

– Transportasi antar kota (Naqobah) setiap jemaah kena biaya SAR 897 atau Rp3.3 juta.

Transportasi antar kota ini 3 kali angkut. Rinciannya: jika jemaah Gelombang I yang mendarat di Bandara Madinah, maka akan diangkut dengan bis antar kota ke Madinah, lalu dari Madinah ke Mekkah, dan dari Mekkah ke Bandara Jeddah.

Adapun untuk Gelombang II yang mendarat di Jeddah, akan diangkut dari Jeddah ke Mekkah, dari Mekkah ke Madinah, dan dari Madinah ke Bandara Madinah.

– Transportasi shalawat (angkutan dari pemondokan ke Masjidil Harom selama 5x waktu sholat) setiap jemaah kena biaya SAR 133 atau sebesar Rp488 ribu.

Sangat murah. Karena jemaah bebas kapan saja selama 24 jam bisa ke Masjid al-Haram.

– Tenda di Arafah dan Mina setiap jemaah kena biaya Rp3.8 juta

– Makan di Asrama Haji setiap jemaah kena biaya Rp120 ribu. Ini sistemnya paket selama 1 hari. Makan 2 kali.

– Gelang tanda pengenal setiap jemaah kena biaya Rp17 ribu.

– Asuransi jiwa dan kecelakaan setiap jemaah kena biaya Rp100 ribu.

Banyak lagi rincian biaya yang lain, seperti jasa pengangkutan koper, buku manasik haji, dan kegiatan pengurusan visa, dan lain-lain. Itu semua, di luar biaya yang dikeluarkan langsung oleh jemaah, dicover oleh hasil nilai manfaat investasi dana haji.

Satu hal yang pasti, biaya untuk petugas haji tidak berasal dari dana jemaah, tapi dari APBN. Dan, kuota petugas haji berbeda dengan kuota jemaah. Barcodenya beda. Jadi tidak ganggu kuota jemaah. Petugas haji kita kemarin 4100 orang. Honornya per hari 950 ribu. Semua itu dari APBN.

Rincian biaya per item untuk rencana tahun 2021 atau di masa mendatang tentunya akan berbeda, mengikuti kebijakan pemerintah Arab Saudi dan nilai kurs.*

*Tenaga Ahli Panitia Kerja Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Komisi VIII DPR RI (2015-2021).

Harja Saputra Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Subscribe my newsletter!

#kami tidak akan kirim spam

Komentari Artikel
Setiap komentar akan dimoderasi dan tayang setelah diapprove. Baik komentar positif maupun negatif tidak akan disensor. Moderasi hanya untuk memilah spam. Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments