Connect with us

Nasional

Konsumen Ponsel Indonesia Mengecam Penganiayaan terhadap Pelapor Pencurian Pulsa

Published

on

Ilustrasi: vivanews.com

Saya sebagai koordinator Komunitas Konsumen Ponsel Indonesia dan Komunitas Voice of Humanism yang telah melakukan gerakan protes bersama Matikan HP 15 Oktober lalu, pagi tadi mengirimkan pers release ke beberapa media online. Rilis tersebut untuk menanggapi pemberitaan tentang kasus penganiayaan yang menimpa Hendri Kurniawan. Ia bahkan sampai menderita kakinya retak akibat penganiayaan itu. (Berita dapat dilihat Di Sini) Rilis itu direspons dengan baik oleh Vivanews.com yang juga banyak menurunkan beritanya terkait penganiayaan tersebut. Sampai saat ini sudah ada 4 berita terkait hal tersebut.

Berikut ini adalah statemen saya selaku koordinator Konsumen Ponsel Indonesia dan koordinator Komunitas Voice of Humanism, yang dimuat di vivanews.com (Jumat, 04/11/2011 pukul 11.44 WIB) dengan judul “Penganiayaan Korban Pencurian Pulsa Dikecam: Komunitas konsumen ponsel tak segan-segan menggelar aksi gerakan matikan ponsel lebih lama”:

“VIVAnews – Koordinator Gerakan Komunitas Konsumen Ponsel Indonesia dan Komunitas Voice of Humanism, Harjo Saputra mengutuk aksi premanisme yang dilakukan terhadap Hendry Kurniawan, seorang pelapor pencurian pulsa. Harjo meminta kepolisian menyelidiki siapa aktor di balik aksi kekerasan tersebut.

“Saya tidak mau menuduh secara sporadis siapa dalangnya. Namun pihak kepolisian perlu melakukan penyelidikan,” kata Harja saat berbincang dengan VIVAnews.com, Jum’at 4 November 2011.

Harjo menuturkan konsumen berhak melaporkan kasus pencurian pulsa yang dialaminya ke pihak berwajib karena hukum bukan diperuntukkan bagi orang tertentu. Dia menegaskan jika hukum adalah miliki semua orang dan harus ditegakkan.

“Pelaku dan siapa pun dalang yang menyuruh penganiaya itu harus diusut. Karena telah mencederai upaya penegakan hukum di negara hukum,” lanjutnya.

Dia mengungkapkan pihaknya akan mendukung siapa saja konsumen yang merasa dirugikan oleh setiap penyedia jasa telekomunikasi telepon atau provider untuk melapor kepada polisi. Dan jika para provider itu tidak kooperatif bahkan melakukan intimidasi, dia tidak segan-segan menggelar aksi gerakan matikan ponsel lebih lama dari aksi serupa pada 15 Oktober 2011 yang lalu.

“Kami bisa bersatu untuk melakukan gerakan mematikan handphone. Kami akan melawan jika masih ada ketidakadilan,” ujarnya.

Dia menambahkan ketika kasus hukum sudah dicampuri oleh tindakan premanisme, hal itu sangat menodai iklim demokrasi dan penegakan hukum. Dia melihat konsumen seakan ditakuti untuk tidak melapor padahal masalah pencurian pulsa adalah masalah bersama.

“Jika ada lagi kasus-kasus penganiayaan pada pelapor atau orang lain yang melakukan protes terkait pencurian pulsa, kami konsumen ponsel Indonesia bisa melawan dengan cara massal,” ucapnya.**(adi)

Dari kutipan berita di atas, meskipun ada kesalahan spelling nama dari Harja Saputra menjadi Harjo Saputra, itu tidak menjadi masalah, yang penting pesannya ter-deliver secara jelas. Berita di atas adalah hasil wawancara wartawan vivanews.com yang langsung menelpon saya setelah menerima rilis yang dikirim melalui email. Mereka, pihak penganiaya yang sudah memberikan teror pada konsumen ponsel yang melaporkan pencurian pulsa harus diberikan pelajaran. Statement di atas adalah sebagai salah satu upaya bahwa konsumen ponsel Indonesia akan melawan jika diperlakukan secara tidak seharusnya apalagi dengan penganiayaan. Ini negara hukum bung…!

Kembali saya tegaskan untuk menghimbau pada pihak kepolisian untuk mengusut pelaku dan siapapun dalang yang menyuruh penganiaya itu. Karena hal tersebut telah mencederai upaya penegakan hukum di negara hukum. Jika ada lagi kasus-kasus penganiayaan pada pelapor atau orang lain yang melakukan protes terkait pencurian pulsa, kami konsumen ponsel Indonesia bisa melawan dengan cara massal seperti saya sebutkan dalam berita tersebut.**[harja saputra/konsumen ponsel indonesia/VoH]