Connect with us

Tayangan TV, BO, dan Ganti Channel

Komunikasi

Tayangan TV, BO, dan Ganti Channel

Ilustrasi: harjasaputra.com

Terkait masalah tayangan televisi, ada orang yang berpikir sederhana: matikan saja televisinya atau ganti channel jika tidak suka. Atau menggunakan alasan klasik: dibutuhkan peran orang tua, yang sering disebut BO (Bimbingan Orang tua). Benarkah sesederhana itu?

Sebelum menjawab itu kita simak dahulu hasil penelitian A.C. Nielsen tahun 2012mengenai frekuensi menonton televisi masyarakat Indonesia.

Dalam penelitian itu disebutkan bahwa di Indonesia, hampir 40 juta rumah tangga punya TV. Jumlah pemirsa TV Indonesia setiap harinya mencapai 55 juta orang. Konsumsi media TV masih mendominasi konsumsi media di Indonesia, yakni mencapai 94%. Dalam sehari, pemirsa TV Indonesia bisa menghabiskan sekitar 4,5 jam duduk di depan TV.

Ada yang menarik dari hasil penelitian ini, bahwa sekalipun menjangkau massa luas, TV bukan media demokratis. Para pemirsa tidak punya kontrol terhadap apa yang ditayangkan TV, mereka hanya menerimanya. Televisi tidak mengekspresikan kebudayaan masyarakat, melainkan budaya perusahaan. Ini yang harus digaris-bawahi.

Bagaimana dengan anak-anak? Simak penelitian yang dilakukan oleh Lillard dan Peterson yang dimuat dalam Journal American Academy of Pediatric (2011) berikut: “Anak-anak prasekolah menonton televisi minimal 90 menit sehari, dan menurut para peneliti lainnya memperkirakan anak-anak remaja menonton televisi antara 2 sampai 5 jam sehari. Jika ini dikalkulasikan maka jika orang itu hidup 70 tahun, maka 7 sampai 10 tahun masa hidupnya dihabiskan untuk menonton televisi. Hal ini ditambah lagi dari hasil penelitian lain yang menunjukkan bahwa 32 persen anak dari usia 2 sampai 7 tahun dan 65 persen anak dari usia 8 sampai 18 tahun memiliki televisi di kamar tidurnya.

Perlu saya kemukakan bahwa Lillard & Petterson, meneliti dengan fokus pada acara televisi favorit anak-anak “Spongebob”. Bayangkan, spongebob saja yang menurut kasat mata tidak ada adegan erotis tapi menurut penelitian ini berbahaya bagi stimulus otak anak-anak, apalagi dibandingkan dengan acara di YKS misalnya yang akhir-akhir ini ramai dibincangkan, atau acara-acara lain yang serupa. Secara kasat mata jauh berbeda dengan Spongebob. Tanpa harus berpikir panjang juga akan mampu membandingkan dampaknya.

Dengannya, masalah tayangan televisi tidak sesederhana pada mengganti channel atau BO. Kenapa demikian?

Pertama, Jika masalah tayangan televisi selesai pada perilaku pengguna dengan mengganti channel, lalu  jika semua tayangan tidak ada yang layak ditonton oleh anak-anak pada jam di mana anak-anak menonton, maka jangan salahkan anak-anak jika kemudian mereka lebih menyukai acara-acara impor. Di mana letak nasionalismenya jika begitu? Kapan kita bisa mendidik anak-anak untuk lebih menyukai acara dalam negeri kalau acara televisi saja mereka lebih mengenal impor daripada lokal?

Ketika masyarakat lebih mengenal tayangan impor daripada lokal, kebanyakan disalahkan perilaku masyarakatnya. Padahal, ini semua berawal dari minimnya tayangan televisi yang layak untuk ditonton.

Kedua, Bimbingan Orang tua (BO) siapapun tidak ada yang menyangkal, bahwa hal itu sangat penting. Orang tua harus berperan dalam membimbing anaknya dalam masalah tontonan televisi. Kembali lagi bahwa bagaimana orang tua bisa membimbing jika mayoritas tayangan lokal yang ada dirasakan tidak layak ditonton? Apanya yang mau dibimbing?

Ketiga, tidak semua orang tua mampu membimbing anaknya dalam masalah tontonan. Terutama di kota-kota besar, dengan gaya hidup orang tua jika dua-duanya bekerja: pergi pagi pulang larut malam lantas kapan mau membimbingnya? Ini fakta yang tidak dapat disangkal.

Keempat, berangkat dari ketiga poin di atas, maka dampaknya apa? Para perusahaan penjual saluran televisi digital makin laris. Karena banyak pilihan channel yang bisa ditonton oleh anak-anak. Selain itu ada fitur-fitur yang memungkinkan orang tua melakukan pengaturan otomatis pada acara televisi. Ditambah lagi fasilitas “no advertisements” makin lengkaplah itu.

Seharusnya para stasiun televisi memaknai protes masyarakat pada tayangannya jangan dianggap sebagai intervensi, tapi sebagai bentuk kepedulian. Jika tanpa protes, hukum alam akan berlaku: mereka akan mati ditinggal oleh audiens yang makin marak beralih ke tipi digital.

Jika sudah begini apa yang terjadi? Ana, ente, wassalam. Buat anak kok coba-coba…!!**[harjasaputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top